Skip to content
Green Blue Nexus

Personal ·

Suara personal — bukan suara About kelembagaan.

Dua Ekonomi yang Terus Dibangun Terpisah

Bagian pertama dari seri tentang transformasi ekonomi berkelanjutan Indonesia.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di bumi — lebih dari tujuh belas ribu pulau, salah satu garis pantai terpanjang di dunia, dan wilayah yang kira-kira dua pertiganya laut. Saya membuka dengan geografi dengan sengaja, karena masa depan ekonomi kita tertulis di geografi itu, dan karena kita terus mencoba membacanya dalam dua bahasa yang terpisah.

Kita berbicara tentang ekonomi hijau — transisi energi, dekarbonisasi industri, sirkularitas, pengelolaan lahan dan daerah aliran yang lebih bersih. Dan kita berbicara, semakin sering, tentang ekonomi biru — perikanan dan akuakultur, logistik maritim, pariwisata pesisir, energi terbarukan laut, dan pelestarian ekosistem yang menyimpan karbon serta melindungi pantai. Kedua agenda nyata, keduanya maju, dan keduanya kini menanggung bobot ambisi nasional.

Itu bukan cita-cita kecil. Itu kerangka ekonomi yang sungguh berbeda.

Namun, setelah bertahun-tahun bekerja di persimpangan kebijakan industri, keuangan, dan transisi lingkungan, saya sampai pada keyakinan bahwa risiko terbesar kita bukan kekurangan ambisi. Risikonya adalah kita mengejar dua ambisi itu seolah tidak berhubungan.

Kemajuan yang berjalan di jalur paralel

Agenda hijau punya momentum. Sasaran energi terbarukan, jalur dekarbonisasi industri, uji coba ekonomi sirkular, harga karbon, taksonomi keuangan berkelanjutan — perancah ekonomi industri rendah karbon sedang dibangun. Investor mengawasi, mitra dagang mengetatkan harapan, dan industri Indonesia mulai memperlakukan daya saing dan emisi sebagai percakapan yang sama.

Agenda biru pun punya momentum. Kita memiliki estate mangrove terbesar di dunia, bersama padang lamun dan sistem terumbu yang sekaligus aset ekonomi dan infrastruktur iklim. Peta Jalan Ekonomi Biru memberi tulang punggung kebijakan. Pariwisata pesisir, perikanan berkelanjutan, pelabuhan hijau, dan karbon biru bergerak dari konsep ke pipa.

Dua agenda, keduanya kredibel, keduanya mempercepat. Jadi di mana masalahnya?

Celahnya adalah ruang di antara keduanya

Masalahnya adalah daratan dan laut bukan dua ekonomi. Mereka satu sistem yang kita kelola dengan dua perangkat lembaga, dua dokumen perencanaan, dua logika pembiayaan, dan dua papan skor.

Apa yang terjadi di darat tidak tinggal di darat. Limbah industri, plastik, nutrien, dan sedimen mengalir di daerah aliran dan mengendap di perairan pesisir yang sama tempat kita meminta perikanan dan pariwisata tumbuh. Ketika kita mendekarbonisasi pabrik tetapi mengabaikan sungai tempatnya berdiri, atau merehabilitasi mangrove sementara daerah tangkapan di belakangnya terus membuang limbah, kita membayar dua kali untuk hasil yang saling merusak.

Ini celah yang sunyi dalam transisi Indonesia. Bukan celah visi, upaya, atau keahlian. Ini celah hubungan. Upaya hijau dan biru kuat sebagai inisiatif tunggal dan lemah sebagai sistem. Nilai yang tercipta di persimpangan — tempat banyak peluang sungguhan hidup — jatuh di celah antar mandat.

Dan biaya fragmentasi itu naik. Pasar internasional tidak lagi membeli narasi; mereka membeli bukti. Modal semakin mengalir ke pipa yang bankable dan kredibel. Negara yang dapat menghubungkan pengetahuan, lembaga, keuangan, dan datanya ke satu sistem yang koheren akan bergerak lebih cepat.

Langkah berikutnya adalah integrasi, bukan inisiatif baru

Naluri, ketika transisi tersendat, adalah meluncurkan sesuatu yang baru. Saya ingin berargumen sebaliknya. Indonesia tidak terutama membutuhkan lebih banyak inisiatif. Ia membutuhkan yang sudah ada bekerja sebagai ekosistem.

Itulah keyakinan di balik Green Blue Nexus — platform kolaboratif yang dirancang untuk menghubungkan agenda ekonomi hijau dan biru Indonesia menjadi satu sistem yang koheren untuk merencanakan, membiayai, melaksanakan, dan mengukur pertumbuhan berkelanjutan. Ia tidak menggantikan yang ada. Ia menghubungkannya.

Ekonomi hijau dan ekonomi biru bukan prioritas yang bersaing untuk diimbangi. Mereka satu ekonomi — ekonomi Indonesia — yang menunggu dijalankan sebagai keseluruhan.

Terjemahan kerja. Naskah sumber: EN

Wawasan →